Bahtera Nabi Nuh Berlayar Terhindar Banjir

  • 2 min read
  • Mar 24, 2021
Bahtera Nabi Nuh Berlayar Terhindar Banjir

Nabi Nuh As merupakan salah satu nabi ulul azmi yang diberikan mukjizat oleh Allah swt karena telah bersabar, tabah dan memiliki keteguhan hati yang luar biasa dalam menghadapi segalan ujian dan cobaan ketika berdakwah menyampaikan ajaran Allah swt. Nabi Nuh As diutus Allah SWT ke bumi untuk berdakwah mengajarkan tauhid kepada umatnya, yaitu kaum Bani Rasub yang menyembah berhala dan thaghut (setan). Padahal awalnya Bani Rasib adalah umat yang beriman kepada Allah SWT. Bahkan ada lima laki-laki sholeh dan beriman yang menjadi panutan mereka, yakni Wadd, Suwaa’, Yaghut, Yauq, dan Nasr. Tetapi, ketika kelima lelaki sholeh itu meninggal dunia, umat Bani Rasib menjadi musyrik, mereka menyembah berhala dan menyekutukan Allah SWT. Pada saat itu, kezaliman dan kemungkaran merajalela. Kaum Bani Rasub membuat patung orang-orang saleh yang sudah meninggal tersebut dan diberi nama dengan nama-nama mereka. Tujuanya patung dibuat untuk selalu mengenang kelima orang-orang yang saleh tersebut. Bahkan patung tersebut dimasukan ke dalam rumah masing-masing penduduk untuk dipuja dan disembah.

Nabi Nuh As merupakan rasul pertama yang di utus Allah SWT kepada penduduk bumi. Nabi Nuh As diutus untuk menyampaikan ajaran tauhid dan memerintah manusia agar menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Para kaum Bani Rasib juga dilarang menyembah berhala, atau patung. Nabi Nuh As memberikan pemahaman kepada kaumnya tentang esensi ajarah tauhid, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT dan tiada Tuhan selain Allah SWT. Nabi Nuh As berdakwah kepada kaumnya dengan cara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan yang dilakukan siang maupun malam hingga ratusan tahun pengikutnya tak lebih dari 80 orang. Itu pun mereka berasal dari kalangan orang miskin dan lemah. Namun, apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil. Bani Rasib justru ingkar dan tidak mengakui Nabi Nuh sebagai utusan Allah SWT. Seruan Nabi Nuh As agar umat kembali beriman kepada Allah SWT dibalas dengan cemoohan serta caci maki. Bahkan mereka mengejek dan menghina Nabi Nuh As sebagai seorang pendusta. Kaum Bani Rasid semakin tenggelam dalam kesesatan dan kesombongan, juga memusuhi dan mengintimidasi Nabi Nuh As serta para pengikutnya yang beriman. Bahkan mengejek dan menghina pengikut dan dakwah yang dilakukan Nabi Nuh As.

Nabi Nuh As tetap bersabar dan teguh pendirian, meski dakwahnya banyak mendapat penolakan padahal sudah berlangsung ratusan tahun, dan senantiasa bertawakal kepada Allah SWT. Dia serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT tentang nasib umat Bani Rasib. Nabi Nuh kemudian berdoa kepada Allah SWT mengenai apa yang dilakukan kaumnya.  Allah pun mengabulkannya,  Nabi Nuh As diminta untuk membuat sebuah bahtera atau kapal yang besar. Allah menegaskan kepada Nabi Nuh As, bahwa jika telah datang perintah dari Allah dan azab-Nya telah menimpa kaumnnya. Selama membuat bahtera, orang-orang kafir terus mengejek dan mencemohnya, termasuk anaknya sendiri yang bernama Kan’an. Namun Nabi Nuh As dan pengikutnya tetap meneruskan pekerjaan mereka. Setelah bahtera selesai dibuat, langit mulai gelap dan tampak hitam menggulung langit, angin bertiup kencang. Petir menyambar dan hujan deras pun turun. Makin lama, air semakin tinggi dan deras hingga gunung-gunung terendam. Bahtera yang dibuat bergerak dan para penumpang selamat. Adapun kaum Bani Rasib yang ingkar dengan seruan Nabi Nuh tak selamat. Istri dan anak Nabi Nuh As juga tidak selamat lantaran tidak mau menuruti seruan Nabi Nuh As.